16 Januari 2009

Bagiku sederet tanggal itu bukan hanya tanggal biasa. Bagiku itu adalah sebuah tanggal dimana kami saling mengucap janji kebersamaan, bertukar hati dan pemikiran.

Belum lama dia putus waktu itu, membuatku sempat tak percaya dan menguji.
Namun Tuhan selalu memiliki cara untuk meyakinkanku bahwa segalanya akan baik-baik saja bila bersamanya.
Hati kami sudah saling terpaut,
keberadaan kami seperti tidak terpisahkan.
Hariku selalu ada untuknya,
Harinya selalu ada untukku.
Bukan hanya hati kami yang saling memiliki, namun hari-hari yang kami lewati tidak lengkap tanpa bertemu pandang.



Katanya cinta bisa menyembuhkan,
Katanya cinta bisa berbuat sesuatu di luar apa yang kita kira,
Katanya cinta bisa membuat duniamu jungkir balik.
Itu katanya dan aku orang yang telah merasakan 'katanya' itu.

Sosoknya bukan hal spesial, tidak tampan ataupun kaya raya. Tidak seperti lelaki berkuda putih impian setiap gadis. Aku pun bukan puteri bermandikan cahaya kecantikan.
Tapi kita sama-sama tahu, kita sama-sama merasa. Bahwa hati yang bersama adalah segalanya.

Berawal dari kumpul komunitas, obrolan pribadi yang nyambung.
Dia memintaku menjadi kekasih hatinya walau sebentar.

Dia sakit.

Kata orang cinta itu membutakan,
Kata orang cinta itu tidak kenal akal,
Kata orang cinta itu hilang logika,
Kata orang proses asmara itu diuji dari bagaimana mempertahankan sebuah hubungan.
Entah kalian setuju atau tidak, aku yang hanya mengikuti angin berdiri setuju.

Meski banyak orang bilang hubunganku adalah sia-sia, banyak yang bilang bahwa keegoisan sepihak menyebabkan pihak lain terluka.
Aku tetap bertahan.
Bertahan pada pilihan yang sudah kupilih.

Awalnya aku tidak menyadari sosok itu, sosok yang rupanya sudah ada disana sedari dulu.
Aku sama sekali tidak mengenalnya.
Pertemuan itu bermula bagaimana aku mengikuti kegiatan kampus dan ada satu bagian dimana kami mendapatkan mentoring.
Di ujung kantin ada dia dan mentor kelompokku.
Aku berfikir untuk menghabiskan waktu dan sekedar duduk bersama tidak ada salahnya.
Aku duduk bersama mentorku dan dia.
Dia yang akhirnya menjabat tanganku untuk pertama kalinya.
Saling bertukar nama, bertukar pandang dan aku tidak merasakan apa-apa.


Ketika usia sudah semakin meninggi dan kurasakan aku menginginkan orang yang serius padaku,
bukan hanya ingin mengencaniku saja namun juga ingin hidup bersamaku.
Gadis di usia cukup menikah memang lebih rentan yaa..

Kadang aku berfikir begitu sembari membereskan pekerjaanku dan melihat banyak pasangan berlalu lalang. Aku tidak mengharapkan muluk-muluk, hanya seseorang yang bisa menerima dan bisa kuterima apa adanya.

Dia yang kini akhirnya bersamaku pun bukan seseorang yang aku harapkan statusnya. Kami berkenalan melalui media sosial. Awalnya hanya sebuah kekeliruan.
Dia berfikir aku menyapa duluan, aku hanya memaklumi bagaimana dia yang pertama kali memakai aplikasi itu bertindak demikian.
Awalnya tidak ada pengharapan, respect dan apapun itu. Rasaku masih menjadi rasa sendiri dan dia sama sekali bukan apa yang aku perkirakan.
Kami mengobrolnya pun layaknya teman biasa, tidak berbau asmara ataupun mengarah ke arah yang serius.
Kadang kukatakan pada dunia, bahwa keadilan itu tidak ada sama sekali.
Tidak bersuara salah,
Bersuara salah,
Lalu letak keadilan dimana?
Tidak berhati salah,
Berhati pun salah,
Lalu letak keberadaan itu dimana?

Sungguh awal tulisan yang sungguh emosional bukan?
Karena dunia yang sangat rumit, kompleks dan sungguh terkotak-kotak.
Beberapa kepala berteriak kesetaraan, beberapa mencibir, beberapa nyinyir dan segalanya tetap pada posisinya.
Cinta datang silih berganti, yang baru atau yang lama, yang telah hilang lalu kembali begitu saja.
Meminta kembali lalu mengulang hal yang sama,
Aku lelah.

Pernah satu kali ku bertanya pada Tuhan, haruskah aku kembali pada yang terdahulu yang telah menyakitiku atau aku memang harus menunggu?
Menunggu itu bukanlah perkara mudah, bukan hal gampang.
Bukan ketika kamu bilang, "Ya, aku tunggu".
Nyatanya aku malah teronggok di ujung kamar, merasa begitu sepi.

"Ku kenalin ke temenku aja ya. Siapa tau jodoh"
Sebaris kata manis seorang kawan membuatku meragu berfikir sebentar.
Tak lama aku mengiyakan dan masih dalam keraguan yang sama.



Malam telah berlalu, udara pagi datang. Dari sela pintu kulihat mentari cahaya telah bersinar.
Perasaanku tak kunjung menghangat seiring datangnya mentari.
Kupeluk guling disebelahku, tetap saja tidak hangat.
Ah, rupanya bukan badanku yang kedinginan namun hatiku yang sudah membeku.
Dinginnya menjalar sampai tulang-tulangku.

Kisah ini terasa begitu lama atau memang aku belum sungguh ikhlas melupakannya?
3 tahun kami bersama.
3 tahun kami saling adu pendapat dan hati
Begitu banyak kenangan terjalin, setiap hari selalu berbeda dan penuh warna, karena ada dia.

Entah mana yang lebih menyakitkan, diberi harapan palsu atau takut mengungkapkan apa yang dirasa.
Kisah kasihku mungkin tidak sedramatis seperti di film-film atau drama percintaan kalian.
Bahkan di jeda kesendirianku selama 2 tahun, mungkin aku bukan apa-apa.

Aku selalu merasa, aku bukan apa-apa.
Sampai dia datang..
Mengubah kecanggunganku, mengubah segalanya, memporakporandakan kebimbanganku..

Beranjak dari komunitas sosial media aku dan dia berkenalan.
Dia mulai duluan menyapa, heran adalah apa yang kurasakan.
Ada apa gerangan, siapakah dia.


Semua orang ingin bahagia, siapa yang tidak mau.
Semua orang ingin hal-hal yang membuatnya tersenyum kecil ataupun tertawa lebar lalu seterusnya mengenang hal itu, siapa yang tidak mau.

Aku pun begitu.

Pernah kutatap langit lalu berkata kapan sang jodoh akan datang menyapa. Sudah terlalu banyak lelaki sekejap mata bilang aku cantik dan lainnya, sekejap kemudian berfikir ulang. Katanya aku manis ramah dan mudah diajak berteman. Ah, temanku sudah banyak. Aku butuh orang yang kurindukan.

"Rasa sakitmu akan cinta mungkin masih begitu membekas, namun katamu denganku, kamu kembali percaya dengan rasa itu hingga hilang sakitmu"

Memiliki seseorang untuk digandeng bukan perkara sulit bagiku, yang sulit adalah membuat komitmen dan menjadikan mereka akhir bagiku.
Pernah satu kali aku berfikir kelak aku akan menikah dengan siapa, punya anak dengan siapa, siapa yang akan menjadi menemani hari tuaku, seperti apa rupanya. Meski berganti-ganti pasangan ada kerinduan untuk menetap dalam satu hati, yang membuatku seutuhnya bertahan dengannya.

Terakhir ketika kugenggam tangan seseorang, aku selalu merasakan hubungan yang sia-sia. Cinta yang tergapai namun tidak akan ada kisah akhir. Aku menimang hati yang ragu, pikiran yang galau dan kuputuskan untuk sendiri dulu.
3 Bulan kujalani sendiri dan aku merasa tidak apa-apa, timbul pertanyaan apakah memang aku pernah menyukai seorang dengan rasa yang lebih, hati yang merindu begitu kuat dan mendamba?